Rilisberita.id, JAKARTA — Di tengah gemuruh modernitas dan kesibukan duniawi, kerinduan masyarakat untuk kembali menata hati kian membesar. Banyak kaum muslimin mulai membuka diri mendalami dimensi batiniah Islam atau tasawuf demi meraih ketenangan jiwa yang hakiki. Namun, dalam perjalanan spiritual tersebut, tidak jarang muncul pemahaman yang parsial: sebagian mengutamakan batin, namun perlahan mengabaikan fondasi ibadah lahiriah.
Merespons hal itu, Raden Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA., pengamat sosial-keagamaan, memaparkan ulasan edukatif mengenai empat pilar spiritualitas Islam: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat. Keempatnya merupakan satu kesatuan hierarkis yang utuh dan mutlak untuk mewujudkan Islam yang kaffah (sempurna).
“Dalam timbangan logika aturan, kita tidak akan pernah bisa menegakkan keadilan substantif jika hukum formal atau prosedur awalnya kita tabrak. Di dalam syariat agama pun demikian — keluhuran batin tidak akan tercapai tanpa ketundukan lahir,” ujar Rd. Oki.
Secara teologis, jenjang ini bersandar pada Hadis Jibril yang masyhur, di mana Rasulullah SAW menjabarkan tiga tingkatan agama: Islam, Iman, dan Ihsan. Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim (No. 8), ketika ditanya tentang Ihsan, beliau bersabda:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Rd. Oki menjelaskan: Islam merepresentasikan Syariat, Iman sebagai Hakikat, dan Ihsan sebagai Makrifat — semuanya ditempuh melalui Tarekat, yaitu jalan kedisiplinan batin.
1. SYARIAT — Fondasi Hukum dan Kepatuhan Lahiriah
Syariat adalah seluruh aturan lahiriah: hukum Islam, perintah, larangan Allah SWT yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah — mencakup salat, puasa, zakat, hingga muamalah sehari-hari.
Ia ibarat konstitusi dasar yang mengikat mutlak bagi setiap muslim.
“Syariat adalah pagar pengaman bagi seorang hamba Allah. Sungguh keliru jika ada yang mengira setelah mencapai maqam spiritual, ia bebas meninggalkan ibadah wajib seperti salat lima waktu. Pemahaman demikian justru menggugurkan hakikat beragama,” tegas Rd. Oki.
2. TAREKAT — Metode dan Kedisiplinan Pembersihan Jiwa
Tarekat dipahami sebagai jalan, metode, kurikulum batin untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) secara istiqamah — ibarat SOP spiritual dan kode etik batin.
Melalui bimbingan terarah, gerakan lahiriah syariat diresapkan ke dalam kalbu lewat zikir dan tafakur, sehingga ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas fisik yang kering.
3. HAKIKAT — Menemukan Kebenaran Substantif Ibadah
Fase di mana hati mulai dibukakan untuk menangkap esensi terdalam dan rahasia spiritual di balik setiap syariat yang dijalankan.
Kini beribadah bukan lagi sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan karena butuh dan rindu kepada Tuhannya.
“Jika syariat adalah kepatuhan mutlak pada bunyi aturan tertulis, maka hakikat adalah nilai keadilan luhur yang terkandung di dalamnya. Di sinilah indahnya Islam — setiap syariat selalu menyimpan hakikat yang menenteramkan,” urai Rd. Oki.
4. MAKRIFAT — Puncak Kesadaran Spiritual Tertinggi
Tingkatan tertinggi dan muara seluruh perjalanan ruhani: mata batin (basirah) mengenali keagungan, keindahan, dan keesaan Allah SWT (makrifatullah).
“Pada titik mulia ini, berbuat kebajikan dan menjauhi maksiat bukan lagi karena takut neraka atau memburu pahala surga. Segalanya murni didasari rasa cinta tulus (mahabbah) dan pengenalan mendalam kepada Sang Khaliq,” tambahnya.
Ini selaras Hadis Qudsi riwayat Imam Al-Bukhari (No. 6502):
“…Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…” (HR. Bukhari)
STRUKTUR HIERARKI SPIRITUALITAS ISLAM
plaintext
MAKRIFAT : Mengenal Allah dengan Mata Batin Puncak Perjalanan
HAKIKAT : Memahami Esensi Kebenaran & Ruh Ibadah
TAREKAT : Kedisiplinan Metode dan Pembersihan Kalbu
SYARIAT : Pondasi Hukum dan Ibadah Lahiriah Dasar Mutlak
KESIMPULAN — Menghimpun Lahir dan Batin
Oki menegaskan: integrasi syariat dan hakikat adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Ia menukil perkataan Imam Malik RA:
“Barangsiapa bersyariat namun tidak berhakikat, maka ia telah fasik. Barangsiapa berhakikat namun tidak bersyariat, maka ia telah zindik. Barangsiapa menghimpun keduanya, maka ia benar-benar mencapai kebenaran.”
“Syariat tanpa hakikat adalah hampa. Hakikat tanpa syariat adalah batal. Keduanya berjalan beriringan. Integrasi inilah yang membentuk pribadi muslim yang taat secara lahir, sekaligus bersih dan bening secara batin,” pungkas Rd. Oki. ( Hadi )
