Makom Sekh Sarif Hidayatullah ,Cirebon
Dari berbagai sumber
Rilisberita.id,Jakarta – Banyak peziarah non-Muslim, terutama dari etnis Tionghoa, yang mengunjungi makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, menunjukkan toleransi dan sejarah harmonis, mereka biasanya berdoa di dekat makam Putri Ong Tien (istri Sunan Gunung Jati) atau bagian lain kompleks.
Hal ituĀ menunjukkan ziarah bukan hanya urusan Muslim, tapi juga wisata religi dan penghormatan sejarah yang telah terjalin sejak lama di sana.
Alasan Peziarah Non-Muslim Datang:
Kisah Harmonis: Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) menikahi Putri Ong Tien Nio, seorang Tionghoa, sehingga makamnya menjadi simbol akulturasi budaya dan toleransi yang kuat antara Muslim dan Tionghoa di Cirebon.
Penghormatan Sejarah: Selain sebagai Wali Songo, Sunan Gunung Jati adalah pendiri Kesultanan Cirebon, sehingga makamnya juga menjadi situs sejarah dan budaya penting.
Wisata Religi: Banyak yang datang untuk wisata religi, tidak hanya Muslim, tetapi juga Tionghoa yang ingin mengenang sejarah dan spiritualitas tempat tersebut.
Aktivitas Non-Muslim di Area Makam:
Warga Tionghoa sering terlihat bersembahyang di area makam Putri Ong Tien atau di gerbang makam, menunjukkan penghormatan mereka tanpa mengganggu peziarah lain.
Mereka datang dengan niat yang sama, yaitu berwisata religi dan mengenang sejarah yang harmonis, seperti yang dilakukan peziarah Muslim.
Jadi, meskipun Sunan Gunung Jati adalah tokoh penyebar Islam, kompleks makamnya terbuka dan dikunjungi oleh berbagai kalangan, termasuk non-Muslim, karena nilai sejarah dan budayanya yang kaya serta kisah toleransi yang melekat padanya. ( Red)
