Mengurai Risiko Alam Besar di Tengah Ketidakpastian Situasi Global
Rilisberita.id, JAKARTA, 18 Juni 2026 – Platform diskusi inspiratif EdShareOn kembali menghadirkan wawancara penting yang menyangkut keselamatan dan ketahanan seluruh bangsa Indonesia. Dalam sesi dialog mendalam yang dipandu langsung oleh Eddy Wijaya, hadir narasumber utama Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.—tokoh yang dikenal publik selaku mantan Kepala BMKG periode 2017–2025 dan kini menjabat sebagai Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada.

Dalam percakapan ini, keduanya membongkar dua ancaman serius yang kini sedang mengintai negeri ini: fenomena cuaca ekstrem yang dijuluki El Nino Godzilla serta risiko bahaya gempa dan tsunami yang berpotensi muncul dari keaktifan kembali Sesar Palu‑Koro. Pembahasan ini tidak hanya menyinggung sisi ilmiah, tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat, kaitannya dengan dinamika dunia saat ini, hingga langkah‑langkah persiapan yang wajib dilakukan. Berikut adalah rangkuman utuh pembahasan tersebut.
Mengapa Disebut El Nino Godzilla? Kekuatan Jauh di Luar Batas Normal

Eddy Wijaya membuka dialog dengan menanyakan makna di balik julukan yang terdengar begitu dahsyat tersebut. Menurut penjelasan Prof. Dwikorita, nama unik itu dipakai para ahli untuk membedakan kekuatannya yang jauh melampaui siklus El Nino biasa yang pernah terjadi sebelumnya.
“Jika dampak El Nino saja sudah sering membuat kita kesulitan, kali ini skalanya berbeda. Pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur berlangsung sangat ekstrem. Belum lagi, kondisi ini terjadi berbarengan dengan fenomena Indian Ocean Dipole Positif. Gabungan keduanya ibarat badai sempurna yang membuat curah hujan di wilayah kita anjlok drastis. Dampaknya diprediksi akan terasa hingga awal tahun depan,” jelas Dwikorita.
Wilayah yang diperkirakan paling parah terdampak meliputi sebagian besar Indonesia bagian selatan dan barat: mulai dari Sumatera, Jawa, sebagian wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Bali. Sementara di wilayah tengah dan timur, dampaknya tidak merata namun tetap berpotensi menimbulkan masalah.
Eddy Wijaya kemudian menyoroti konteks situasi internasional. “Fenomena ini datang tepat saat kondisi politik dan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dari ketegangan. Apakah ini menjadi beban ganda yang berat bagi ketahanan nasional kita?”
“Tepat sekali gambaran itu,” jawab Dwikorita tegas. “Kekeringan panjang berisiko besar memicu kegagalan panen luas, krisis air bersih, meluasnya kebakaran hutan, hingga lonjakan harga pangan. Jika tekanan alam ini bertemu dengan guncangan ekonomi global, dampaknya akan langsung terasa hingga ke masyarakat dan bisa mengganggu stabilitas negara.”
Langkah Konkret Menghadapi Dampak: Dari Pertanian Hingga Kesehatan
Menjawab pertanyaan Eddy Wijaya mengenai solusi dan persiapan apa saja yang harus disiapkan, Dwikorita merinci sejumlah strategi mitigasi yang harus segera dijalankan:
Penyesuaian Sektor Pertanian: Petani dan dinas terkait diminta segera mengubah pola tanam secara menyeluruh. Solusi utama adalah beralih ke jenis tanaman berumur pendek dan tahan kekeringan. Pemerintah wajib mendukung penyebaran bibit unggul serta memperluas penggunaan teknologi irigasi hemat air agar produksi pangan tetap aman.
Teknologi Rekayasa Cuaca: Sebelum kemarau mencapai puncak terparahnya, BMKG bersama kementerian terkait akan memaksimalkan operasi hujan buatan. Tujuannya mengisi kembali waduk dan cadangan air tanah, khususnya di wilayah paling kering seperti Nusa Tenggara. Distribusi bantuan pompa air ke lahan pertanian juga menjadi prioritas utama.
Kewaspadaan Pangan dan Gizi: Risiko terbesar adalah terganggunya rantai pasok makanan. Hal ini dikhawatirkan berdampak langsung pada program strategis negara seperti Makan Bergizi Gratis. “Anak‑anak dan lansia adalah kelompok paling rentan. Jika harga naik atau pasokan berkurang, asupan gizi mereka terancam. Kita harus pastikan cadangan aman dan harga terjangkau,” tegas Dwikorita.
Perhatian Wilayah Pasca Bencana: Daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang baru pulih dari musibah harus mendapatkan prioritas bantuan air dan sanitasi. “Bertahan hidup di kemarau saat sedang memulihkan diri adalah tantangan terberat,” tambahnya.
Siaga Kesehatan: Enam bulan ke depan diprediksi kasus penyakit akibat kekeringan—mulai dari diare, infeksi saluran napas akibat debu, hingga gizi buruk—akan meningkat tajam.
Ancaman Tersembunyi: Sesar Palu‑Koro dan Bahaya Tsunami Laut Dalam
Pembahasan kemudian beralih ke potensi bencana geologis yang tak kalah mengerikan. Eddy Wijaya menyinggung peristiwa gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter yang mengguncang perairan selatan Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026 lalu, yang sempat merusak wilayah perbatasan Indonesia.
“Apakah gempa ini ada hubungannya dengan kondisi Sesar Palu‑Koro? Apakah ini tanda bahaya bagi kita?” tanya Eddy Wijaya.
Dwikorita menjelaskan bahwa meski jarak cukup jauh dan pengaruh langsungnya kecil, pemantauan tetap berjalan ketat. Beliau kemudian mengungkapkan temuan penting hasil penelitian terbaru dari peneliti Yang Ting Wei yang mengubah pemahaman para ahli:
“Kita baru benar‑benar paham struktur aslinya. Ternyata, Sesar Palu‑Koro itu tidak berhenti di daratan Sulawesi saja. Patahannya utuh, lurus, dan memanjang masuk hingga jauh ke dasar Laut Sulawesi. Inilah fakta yang menjelaskan mengapa gempa tahun 2018 lalu bisa memicu tsunami yang begitu dahsyat dan mematikan,” ungkap Dwikorita.
Karena membelah dasar laut secara lurus dan panjang, pergerakan sedikit saja berpotensi menggeser massa air dalam jumlah raksasa dan menimbulkan gelombang tinggi dalam waktu sangat singkat. Risiko bahayanya dinilai jauh lebih besar dibandingkan sesar biasa. Dwikorita mengingatkan masyarakat di sekitar Teluk Palu dan pesisir Sulawesi untuk selalu paham jalur evakuasi dan tetap waspada.
Penutup: Kesiapan Adalah Kunci Utama
Di akhir dialog panjang ini, Eddy Wijaya menutup dengan pertanyaan mendasar mengenai kesiapan bangsa. “Apakah Indonesia sudah siap menghadapi dua tantangan besar ini sekaligus?”
Prof. Dwikorita menegaskan bahwa tantangan ini memang berat namun bukan berarti tidak bisa dihadapi. “Kita tidak bisa mengubah alam, tapi kita bisa mengubah cara kita bersiap. Kerja sama pemerintah dalam membuat kebijakan cepat dan tepat, serta kesadaran masyarakat untuk beradaptasi, adalah kunci utama. Di tengah dunia yang belum menentu ini, kemandirian pangan, energi, dan kesiapan bencana adalah pondasi agar kita tetap berdiri tegak. Informasi ini kami sampaikan bukan untuk menakuti, melainkan agar kita semua bersiap dan meminimalkan dampak buruknya,” pungkasnya.
Diskusi lengkap mengenai fenomena alam, geopolitik, dan kesiapan menghadapi tantangan ini dapat disimak selengkapnya dalam kanal YouTube EdShareOn di tautan berikut: https://youtu.be/rhwPFUSD9xg atau kunjungi situs resmi https://edshareon.com.
(Tim Redaksi)
