Oleh Raden Adv.Oki Prasetiawan, S.M.,S.H.,M.H
Kebijakan Satu Pintu Demi Selamatkan Rp15.400 Triliun, GAPKI Tegaskan Kesiapan Bersinergi
Rilisberita.id, JAKARTA, 11 JUNI 2026 – Pemerintah mengambil langkah terobosan dengan memusatkan seluruh aliran ekspor tiga komoditas strategis nasional – batu bara, ferro alloy, dan minyak kelapa sawit – ke dalam satu manajemen melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini ditetapkan sebagai solusi akhir menutup kebocoran keuangan negara yang selama 34 tahun terakhir diperkirakan mencapai Rp15.400 triliun akibat praktik pencatatan harga di bawah nilai wajar (under invoicing) dan pengalihan keuntungan (transfer pricing).
Menanggapi perubahan besar ini, Podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya mengangkat isu tersebut sebagai topik utama. Dalam sesi diskusi mendalam, Eddy Wijaya berbincang langsung dengan pimpinan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) untuk menelusuri bagaimana pandangan industri, apa saja tantangan nyata di lapangan, dan bentuk aturan seperti apa yang diharapkan agar kebijakan ini berjalan sukses.
Dukung Tujuan Negara, Ingatkan Karakteristik Unik Industri
Membuka diskusi, Eddy Wijaya menyoroti urgensi pemusatan pengelolaan ini agar kekayaan alam Indonesia benar‑benar berputar untuk kesejahteraan rakyat. Namun, ia juga menekankan bahwa industri sawit memiliki ekosistem yang sangat kompleks, mulai dari petani plasma, pabrik pengolahan, hingga jaringan perdagangan global yang bergerak setiap hari.
“Tidak ada yang menolak tujuan mulia ini. Negara harus mendapatkan haknya sepenuhnya. Namun, pertanyaan besarnya: bagaimana mekanisme operasionalnya? Apakah sudah siap menampung volume ekspor yang luar biasa besar ini tanpa mengganggu ritme perdagangan? Ini yang perlu kita bahas bersama,” ujar Eddy Wijaya memandu pembahasan.
Menjawab hal itu, perwakilan GAPKI menegaskan dukungan penuh terhadap upaya pemberantasan praktik yang merugikan negara. Akan tetapi, ia mengingatkan agar regulasi yang dibuat tidak kaku dan harus memahami bahwa harga komoditas sawit sangat dinamis, berubah setiap saat mengikuti pasar dunia.
“Kami siap patuh dan mendukung. Hanya saja, jangan sampai aturan dibuat hanya berdasarkan teori, tanpa melihat bagaimana pasar bekerja. Jika aturan tidak fleksibel atau tidak berbasis data harga yang akurat, dikhawatirkan produk kita kalah saing di pasar internasional dan justru merugikan seluruh rantai pasok, mulai dari petani hingga pengusaha,” jelasnya.
Penyusunan Aturan: Industri Wajib Terlibat Penuh
Pesan paling tegas yang disampaikan dalam wawancara tersebut adalah permintaan agar pemerintah dan Danantara tidak bekerja sendiri dalam menyusun aturan teknis dan prosedur operasional. Pengusaha mengaku memiliki data lengkap, pengalaman panjang, dan pemahaman mendalam mengenai seluk‑beluk ekspor sawit, sehingga keterlibatan mereka adalah syarat mutlak agar kebijakan ini efektif.
“Kami menginginkan regulasi yang disusun berlandaskan data dan realitas industri. Kami tidak ingin duduk di kursi penonton saja. Kami minta dilibatkan sejak awal, memberi masukan, dan ikut menyusun mekanismenya. Tujuannya satu: agar aturan itu bisa dijalankan, tidak menimbulkan hambatan baru, dan benar‑benar mencapai sasaran menambah pendapatan negara,” tegasnya.
Ia menambahkan, dengan melibatkan asosiasi, sistem pengawasan akan jauh lebih kuat. Data yang dimiliki industri dapat disinkronkan dengan data pemerintah, sehingga praktik‑praktik buruk yang selama ini merugikan negara bisa terputus total tanpa mengganggu kelancaran perdagangan yang sah.
Kunci Keberhasilan Ada pada Kolaborasi

Di akhir dialog dalam Podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya itu, disimpulkan bahwa kebijakan satu pintu ini adalah langkah sejarah bagi Indonesia. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana aturan mainnya dirancang.
Pihak GAPKI kembali menegaskan posisinya sebagai mitra strategis negara. Ia meyakini, jika pemerintah, Danantara, dan pelaku industri duduk bersama, saling mendengar, dan menyatukan visi, maka tata kelola baru ini akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi nasional.
“Mari kita bangun sistem yang lebih bersih, lebih adil, dan lebih menguntungkan semua pihak. Selama ada kolaborasi dan keterbukaan, saya yakin kekayaan alam Indonesia akan memberikan manfaat sebesar‑besarnya bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.( Red )
