Oleh: Pembina DPP FKWSB
Rilisberita.id, Jakarta – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Wartawan, LSM, dan Pengamat sebagai “Londo Ireng” bukan sekadar persoalan diksi. Ini soal arah.
Sejarah mencatat, sejak era Presiden Soekarno hingga hari ini, belum pernah ada Kepala Negara yang secara terbuka memberi cap kolonial kepada pilar ke 4 penjaga demokrasi itu. Dan sejarah akan mencatatnya.
Menurut Rd. Hadi Haryono, Pembina Forum Komunitas Wartawan Sukabumi Bersatu (FKWSB)
“Pernyataan ini sangat disayangkan”.
“Wartawan, LSM, dan Pengamat adalah mitra strategis pemerintah dalam membangun bangsa. Memberi stigma ‘Londo Ireng’ justru bisa berdampak pada perpecahan rakyat. Seharusnya komunikasi dibangun dengan dialog, bukan dengan label yang melukai”, ungkap Rd.Hadi haryono.C.CPL, Sabtu (12/9/26) .
Kenapa ini berbahaya?
Karena Wartawan menulis fakta, LSM menyuarakan rakyat kecil, dan Pengamat memberi analisis kritis. Mereka bukan musuh. Mereka adalah cermin. Ketika cermin dipecahkan, yang retak bukan bayangannya, tapi wajah bangsa itu sendiri.
Label “Londo Ireng” punya luka sejarah. Ia dipakai penjajah untuk memecah pribumi. Jika kini dipakai lagi oleh pemimpin bangsa sendiri, maka yang terjadi bukan persatuan, tapi perpecahan. Rakyat akan dipaksa memilih: diam atau dilawan.
FKWSB meyakini, kritik bukanlah pengkhianatan. Pers yang bebas, LSM yang vokal, dan akademisi yang jujur adalah tanda negara sehat. Membungkamnya dengan stigma hanya akan melahirkan ketakutan, bukan kemajuan.
Kami berharap Bapak Presiden meluruskan konteksnya. Bangsa ini butuh pemimpin yang merangkul, bukan yang memberi cap. Karena negara besar dibangun dari dialog, bukan dari label.
#JagaPers #JagaDemokrasi #FKWSB.
